“Karena..hidup adalah soal keberanian, terimalah dan hadapilah..”

April 1, 2010

Tadi pagi ada yang pulang..

Filed under: imagine,PenGalan KisaH HidUP — ariee @ 5:08 am
Telat bangun, kemudian buru-buru mandi
Selanjutnya bersiap-siap berangkat kantor
Turun dari kost sekalian mau beli sarapan pagi, sedikit heran kok suasananya rame yahh
Mana pada make peci dan krudungg…wah ada apa nieee…??? (dalam hati),
belum sempat bertanya ke orang sekitar, ternyata mata sudah memberikan jawaban,
dengan menemukan bendera kuning diujung gang.  Ohh ada yang pulang (hati berguman).
Selidik punya selidik, tetangga (Pak Ustadz Herman) dua rumah dari kostan, istrinya meninggal.
Sedikit heran kemarin malam rasa-rasanya masih ngeliat beliau jalan dengan sehat wal afiat.
Kembali teringat akan kematian, ketika “titipan” itu ditarik oleh Sang Pemilik,
Tidak ada yang dapat berkehendak selain DIA..
Innalillahi Wa Inna Ialaihi Rojiun..!!

death is not the end but only a transition..

Iklan

Renungan Indah

Filed under: imagine,PenGalan KisaH HidUP — ariee @ 4:50 am
Tags:
Renungan Indah
W.S. Rendra

Seringkali aku berkata,
Ketika semua orang memuji milikku

Bahwa sesungguhnya ini hanyalah titipan
Bahwa mobilku hanyalah titipan-Nya
Bahwa rumahku hanyalah titipan-Nya
Bahwa hartaku hanyalah titipan-Nya
Bahwa putraku hanyalah titipan-Nya

Tetapi, mengapa aku tak pernah bertanya:
Mengapa Dia menitipkan padaku ???
Untuk apa Dia menitipkan ini padaku ???
Dan kalau bukan milikku, apa yang harus kulakukan untuk milik-Nya itu ???
Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku ?

Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu diminta kembali oleh-Nya ?
Ketika diminta kembali, kusebut itu sebagai musibah
Kusebut itu sebagai ujian, kusebut itu sebagai petaka
Kusebut itu sebagai panggilan apa saja untuk melukiskan kalau itu adalah derita

Ketika aku berdoa, kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku
Aku ingin lebih banyak harta,
ingin lebih banyak mobil,
lebih banyak popularitas, dan
kutolak sakit,
kutolak kemiskinan,
seolah semua “derita” adalah hukum bagiku
Seolah keadilan dan kasih-Nya harus berjalan seperti matematika:

Aku rajin beribadah, maka selayaknyalah derita menjauh dariku, dan nikmat dunia kerap menghampiriku.
Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang, dan bukan kekasih
Kuminta Dia membalas “perlakuan baikku”,
Dan menolak keputusan-Nya yang tak sesuai keinginanku

Gusti,
Padahal tiap hari kuucapkan, hidup dan matiku hanya untuk beribadah.
“Ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan keberuntungan sama saja”….

{*

Puisi terakhir Rendra yang dituliskannya diatas ranjang Rumah Sakit.
Makassihh buat Mbah Rendra, untuk suara yang mengingatkan..
*}

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.