“Karena..hidup adalah soal keberanian, terimalah dan hadapilah..”

Januari 18, 2010

Idealis Sunyi

Filed under: imagine,Sejarah — ariee @ 4:02 am

Pagi ini, sambil ngoprek vb, iseng buka gmail ku..pada list inbox yang dah ribuan itu gw tertarik pada satu diskusi tentang puisi Sutrisno Bachir (SB) mantan ketua PAN pada kongres PAN di Batam beberapa minggu yang lalu. Isi dari puisi SB yang disampaikan didepan forum kongres :

AKU BEKU DALAM MATAHARI
Sutrisno Bachir

Zaman itu,
ketika semua bicara perubahan,
dengan serempak semua bagai tersihir
Entah siapa yang memulai,
tapi semua terlena dalam kubangan harap dan impian

Hari hari itu dipenuhi slogan dan mantra-mantra:
perubahan, perubahan, dan perubahan!

Di sudut sana, orangorang memekik lantang, “Reformasi!”
Di pojok lapangan, para mahasiswa berteriak, “Reformasi!”
Hampir di setiap sudut, di setiap lorong,
di setiap jalan, di setiap jembatan,
di setiap gedunggedung, hingga di setiap gubuk reot,
semua bicara dan mengumpat lantang tentang suara yang sama:
“Reformasi!”

Ya, memang semua bagai tersihir dalam kubangan penuh harap dan impian
Impian untuk menemukan kembali sesuatu yang terampas
Impian mendapatkan apa yang selama ini dianggap palsu dan terhempas

aku pun tak diam
aku berdiri di suatu bukit
Gemuruh angin kencang menyibak kesendirianku
Sekejap datang seseorang membawakan aku matahari

Wahai saudaraku, inilah matahari!
Dengan penuh keyakinan sungguh ia memeluk dan berbisik, jadilah matahari!

Jadilah
Matahari yang akan memancarkan segala cahaya penuh kehangatan
Matahari yang mampu menerangi kegelapan segala ruang dan sudut kebisuan
Matahari yang bisa mengubah si bodoh menjadi cendekia
Jadilah
Matahari yang menjadikan si miskin memiliki ragam kesempatan
Matahari yang menguak segala misteri kebisuan atas kebenaran
Matahari yang selalu bercahaya meski hujan dan angin datang melawan

Ah, aku terpukau
Aku terkesiap dan berdiri
Aku pun tersenyum dan datang menghampiri,
demi satu mimpi dan imaji

“Nusantara diterangi cahaya dengan langit rona biru,
Biru dan sejuk seperti samudera di bumi…”

Aku pun tersenyum dan datang menghampiri,
demi impian yang sangat kuyakini

Aku diam sejenak, demi dapatkan mantra sakti
Setelah kutemukan, aku pun berteriak:
“Hidup adalah perjuangan! Ya, Hidup adalah perjuangan!”
Perjuangan sebagai altar ibadah,
perjuangan tanpa henti tanpa kenal menyerah…

Tapi, angin memang tak bisa ditebak
Seperti angin samudera silih berganti menerpa ombak
Lagi-lagi aku terbelakak dengan segala apa yang kusaksikan di depan kelopak
Awan berarak gelap mengepung angkasa yang terkoyak!

Cahaya matahari memang masih bersinar,
Tapi semua ngumpet dan sembunyi di balik dinding dan rumah-rumah palsu
Semua merasa lebih nyaman menggunakan payung dan berlindung di dalam istana agar terhindar dari cahaya matahari…
Aneh, bila kini aku merasa kedinginan di tengah pijar matahari
Aku menggigil dan tak bisa mengerti…

Bagaimana ini? Apa yang tengah terjadi?
Cahaya yang katanya selalu menghangatkan,
menerangi dan mengingatkan
Cahaya yang katanya dapat menyadarkan
bahwa diri kita memang selalu gelap dan butuh CahyaNya…
ah, aku tak paham!

Mungkin orang mengatakan aku menyerah!
Tidak, bagaimana aku bisa menyerah bila sejak awal aku tak punya daya dan upaya,
karena semua kekuatan hanya datang dari Sang Pencitpa?

Mungkin orang mengatakan aku berlari!
Tidak, Aku tak lari sembunyi, meski aku harus sembunyi
Karena tak ingin tangan hina ini kian kotor oleh kedunguanku yang tak terperi

Aku mungkin hanya bisa berujar singkat:
aku sirna,
aku fana
oleh Keagungan Diri-Nya!

Karena kini aku sadar…
Cahaya itu ada di sini
Matahari itu ada di sini
Di dada ini
Di dalam jiwa ini
Cahaya yang selalu menerangi hati para pencari
Mencari keabadian dan kesejatian pribadi yang hakiki…

Kini aku di sini,
berjalan di jalan yang aku pilih ini
Aku mengerti…setiap dari kita, hanya rangkaian proses untuk
selalu terus bergerak, merangkak untuk menggapai Cinta Ilahi…

Dari apa yang termuat dari puisi tersebut, gw sedikit berimajinasi tentang kegamangan hati dari seorang SB, yang kemungkinan terkecewakan dengan apa yang dihadapi dalam perpolitikan bangsa ini, terkhusus partai amanat nasional (PAN) yang satu periode terakhir dipimpinnya. Puisi ini dengan serta merta mengkoneksikan alam logika ku pada sosok Soe Hok Gie, icon idealis yang selalu terpatri dalam memoryku. Satu gambaran persamaan keduanya adalah angan tentang kejujuran dan keberpihakan politik kepada cita-cita luhur yang murni bagai air aqua (heheheh). Tapi kenyataan mereka kecewa dan akhirnya memilih jalan sepi demi kesetiaan pada idelisme yang mereka pegang. Tampaknya ini tidaklah asing, karena menurut Gie, sejarah selalu mencari “tumbal”, dari masa kemasa akan seperti itu. Bahkan manusia paling agung yang pernah dilahirkan ke bumi ini, Rasulullah SAW “Islam (kebaikan) datang tampak aneh, dan akhirnya juga tampak aneh” berbahagialah mereka yang “aneh” dan tersingkirkan.

Kesimpulan Sempit : SB memiliki idealisme yang menyebabkan dia harus tergusur, karena menolak berteduhdibalik dinding istana yang megah, dan menghindari pijaran matahari yang dipilih untuk meneranginya. Yahhh mungkin saja…!!

6 Komentar »

  1. Tidak ada yang akan mati,
    kalaupun kau mati,
    masih ada yang tersisa.

    Selama klausa-klausa hidup masih ingin dibangun
    dari pilar-pilar yang kokoh dengan jajaran yang hakiki
    bernama kejujuran.

    Tak kan ada yang mati.
    Walau jasadiyah pergi.

    (terinspirasi)
    Tembok setinggi angkasa akan hancur,
    keangkuhan dan ketidakpedulian
    takkan bertahan demi sang idealis.

    Tak kan pernah ada kata mati
    selama klausa-klausa kehidupan masih hakiki.
    tak terjamah berantang koin,
    yang semilyarpun menjadi tak ada artinya.

    Makan saja kekuasaan itu!
    beranilah berteriak demikian.

    maka takkan pernah ada yang mati.
    kalaupun kau mati
    masih ada yang tersisa

    Komentar oleh grayrose — Januari 19, 2010 @ 1:31 am | Balas

    • wauuuuwwwww..puisiiii yang mengenyuhhh….spontanitass..dan sangat emosionalll…

      kerenn va…kerenn abisss….hebatt🙂

      Komentar oleh ariee — Januari 21, 2010 @ 4:39 am | Balas

  2. terimakasih terimakasih..tanda tangannya belakangan yah mas… wkwkwkwm😀

    Komentar oleh Grayrose — Januari 21, 2010 @ 4:49 am | Balas

    • Ituu piusinya mohon ijin di taro di widget “mutiara hari ini” yahh..gantiin puisinya sapardi joko damono…
      ok ? royaltinya blakangan yahh mbak.. waakakakakk

      Komentar oleh ariee — Januari 21, 2010 @ 4:53 am | Balas

  3. royalti = 3 bulan gaji yah ji…kan aji dah dibayar ma adsense wkwkwkwkwkwk😀

    Komentar oleh grayrose — Januari 21, 2010 @ 9:09 am | Balas

    • yee edsen manaa….orang g naro edsen di blog

      Komentar oleh ariee — Januari 24, 2010 @ 11:54 am | Balas


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: