“Karena..hidup adalah soal keberanian, terimalah dan hadapilah..”

Desember 10, 2007

Airmata Semangkuk Mi

Filed under: Kisah Bijak — ariee @ 10:32 am

Pada malam itu, Ika bertengkar dengan ibunya. Karena sangat marah, Ika segera meninggalkan rumah tanpa membawa apa pun. Saat berjalan, ia baru menyadari bahwa ia sama sekali tidak membawa uang. Saat menyusuri sebuah jalan, ia melewati sebuah kedai bakmi dan ia mencium harumnya aroma masakan. Ia ingin sekali memesan semangkuk bakmi, tapi ia tidak mempunyai uang. Pemilik kedai melihat Ika berdiri cukup lama di depan kedainya, lalu berkata, “Nona, apakah engkau ingin memesan semangkuk bakmi ?”“Ya, tetapi aku tidak membawa uang.” Jawab Ika dengan malu-malu.

“Tidak apa-apa, aku akan mentraktirmu”, jawab si pemilik kedai. “Silahkan duduk, aku akan memasakkan bakmi untukmu.”

Tidak lama kemudian, pemilik kedai itu mengantarkan semangkuk bakmi. Ika segera makan beberapa suap, kemudian air matanya mulai berlinang.

“Ada apa nona ?” Tanya pemilik kedai.

“Tidak apa-apa, aku hanya terharu,” jawab Ika sambil mengeringkan air matanya. “Bahka, seorang yang baru kukenal pun memberi aku semangkuk bakmi. Tetapi, ibuku sendiri, setelah bertengkar denganku, mengusirku dari rumah dan mengatakan kepadaku agar jangan kembali lagi ke rumah. Kau seorang yang baru kukenal, tapi begitu peduli denganku dibandingkan dengan ibu kandungku sendiri,” katanya pada pemilik kedai.

Pemilik kedai itu setelah mendengarkan perkataan Ika, menarik nafas panjang dan berkata, “Nona mengapa kamu berpikir seperti itu ? Renungkanlah hal ini, aku hanya memberimu semangkuk bakmi dan kau begitu terharu. Ibumu telah memasak nasi dan bakmi untukmu saat kau kecil sampai saat ini, mengapa kau tidak berterima kasih kepadanya ? Dan kau malah bertengkar dengannya”.

Ika, terhenyak mendengar hal itu, “mengapa aku tidak berpikir tentang hal itu ? Untuk semangkuk bakmi dari orang yang baru kukenal, aku begitu berterima kasih, tetapi kepada ibuku yang telah memasakkanku bertahun-tahun, aku bahkan tidak memperlihatkan kepedulianku kepadanya, dan hanya karena persoalan sepele aku bertengkar dengannya”. Ana segera menghabiskan bakminya, lalu ia menguatkan dirinya untuk segera pulang kerumahnya.

Saat berjalan pulang ke rumahnya, ia memikirkan kata-kata yang harus diucapkan pada ibunya. Begitu sampai di ambang pintu rumah, ia melihat ibunya dengan wajah letih dan cemas. Ketika bertemu dengan ana, kalimat pertama yang keluar dari mulutnya adalah, “Ika kau sudah pulang, cepat masuklah, aku telah menyiapkan makan malam dan makanlah sebelum kau tidur. Makanan akan menjadi dingin jika kau tidak memakannya sekarang”. Saat itu Ika tidak dapat menahan tangisnya dan ia menangis di hadapan ibunya.

Sekali waktu, kita mungkin akan sangat berterima kasih kepada orang lain di sekitar kita untuk suatu pertolongan kecil yang diberikan kepada kita. Tetapi dengan orang yang sangat dekat dengan kita (keluarga) khususnya orang tua, kita harus ingat bahwa kita berterima kasih kepada mereka seumur hidup kita.

Sumber : http://www.suaramerdeka.com

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: